Skip to main content

Posts

Suatu Malam di Club Malam...(Part 2)

Saya melirik arloji, waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Oh NOOOO! Gimana caranya kita balik ke hotel di jam segini? cuma berdua lagi?Siang hari aja horror, apalagi malam kayak gini. Ini New Delhi loh...India loh...baru 3 bulan yang lalu ada kasus Delhi-Gang-Rape yang menggegerkan dunia. Hadohhh...Saya mulai panik. Seakan memperburuk keadaan, di luar ternyata hujan turun dengan derasnya. Satu-satu harapan adalah mencari teman lelaki yang masih normal dan mau diajak pulang ke hotel.  Saya menyapukan pandangan ke seluruh ruangan, hedehhh...semuanya mulai 'fly'. yang sadar cuma waiter dan security di pub sama si Tur Guide yang sepertinya dari tadi memperhatikan kami. "Kak...gimana dong?" tanya saya kepada Mega,putus asa. Mega,meski dalam hatinya rada panik, tapi masih bisa menunjukkan sikap tenang. "Hmm..kita nda mungkin tunggu mereka ka,.pasti semuanya pulang pagi" "Tapi kak,,kalo kita pulang cuma berdua kan danger,.."Saya sudah membaya...

Suatu Malam di Club Malam....(Part 1)

Entah lagi kena angin apa, ato mungkin gara-gara baru habis baca bukunya mbak Hanum, tiba-tiba saya ingin saja menulis kisah ini. Kisah ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Beribu-ribu kilometer dari rumah saya di Jl Dewi Sartika V Palu. Tepatnya di  Wilayah Asia Selatan, lebih tepatnya lagi di sebuah kota bernama New Delhi, India.Dari judulnya, readers mungkin bertanya-tanya, ada apa malam-malam di club malam?Ngapain pulak saya ke sana? Well. akan saya cerita segera. namun ada baiknya kita beri sedikit pengantar. :p Jadi konon, buku mbak Hanum Rais baik 99 Cahaya dilangit Eropa maupun Bulan Terbelah di Langit Amerika ini, mengandung pesan bahwa di manapun kita berada, kita harus menjadi agen muslim yang Seperti kata  Fatma Pasha, “…. Hanya satu yang harus kita ingat. Misi kita adalah menjadi agen Islam yang damai, teduh, indah, yang membawa keberkahan di komunitas nonmuslim.  Bawalah nama baik Islam. Jangan sampai memalukan atau malah mencemarkan . Satu naseha...

Bersimpuh

Subuh datang mengganti malam.   Aroma nya menghantarkan kedamaian. Dinginnya menusuk-nusuk,  Melenakan mereka yang lupa akan kehadiran Sang Tuhan Dalam pekatnya subuh, aku bersimpuh, luruh,mengadu dalam haru kepada Dia yang maha Tahu Seperti meratap penuh harap , seperti merengek mengiba-iba aku mencoba menepiskan malu, akan semua ulah dan laku Bertanya-tanya seberapa pantaskah si hina ini meminta, 'memaksa' Mengharap b elas kasih untuk setitik asa yg masih terjaga *Suatu subuh yang dingin bersama malaikat dan kokok ayam ketawa diluar sana*

Sebuah Salam

Ku sampaikan salam itu lewat angin Lewat hujan Lewat pekatnya malam Lewat terangnya siang Namun tak kunjung sampai Tak mungkin kau dengar Ku perhatikan kau lewat jarak Diam-diam Tak terlihat Tak ingin mengusik, Tak ingin merusak, Harimu, Hatimu, C ita-citamu, I manmu... Kau terjaga, Bersih tak bernoda Tak berniat aku mencipta cela Meski ingin aku ungkap pada dunia Setiap rasa yang menikam jiwa Kau tahu , Aku disni, T elah Berhari-hari   Berminggu -minggu Be rbulan -bulan Bertahun-tahun.. Menunggu dalam bisu Mengawasi dalam kelu Menghitung waktu Yang dijanjikan   Oleh keyakinan Hingga  kelak Di suatu senja Aku dat a ng , Menjemput asa Untuk meminta , Untuk mendengarmu berkata “Ya” *Sebuah apresiasi untuk seorang kawan*

Untuk Anda Calon Pemimpin Bangsa.. *racauan pagi ini

"Wahai Presiden kami yang baru.... Kamu harus dengar suara ini.. Suara yang keluar dari dalam hati.. Suara yang penuh kebosanan..." (Iwan Fals, Manusia Setengah Dewa) 9 Juli 2014. Hari masih pagi. Seperti dugaan saya, TPS 9 tempat saya terdaftar sebagai pemilih  masih sangat lengang. Alasannya sudah jelas : banyak yang ketiduran karena menonton bola semalam. Baguslah, berarti saya ga perlu lama-lama antri menunggu giliran untuk mencoblos. Setelah menyerahkan A5 saya kepada petugas, saya duduk di kursi antrian sambil memperhatikan para petugas yang sibuk dengan kertas-kertas dihadapannya.  5 tahun lalu, saat pilpres 2009, bapak saya ada diantara mereka, sebelum beliau berpulang untuk selama-selamanya. Sedang asik dengan pikiran saya sendiri, tiba-tiba saya mendengar nama saya di panggil. Saya melangkah maju, Surat suara lalu diberikan. Lebih kecil, lebih simpel, karena hanya ada dua pilihan. 1 atau dua. Saya pun masuk ke bilik suara dan membuka sura...

About having a kid and Being a Mom ( A Crap of A Friend )

"You'll fall in love to your kid at the moment when you know that you're pregnant"  (Najwa Shihab) Entah sejak kapan gw mulai kepikiran untuk punya anak, mungkin setahun belakangan, atau lebih, pas nya gw g tau. Yang gw tau betapa gw iri pada mereka yang sudah menjadi ibu. Itu saja. Tentang memiliki anak yang menjadi tanggung jawab seumur hidup dunia akhirat. Mungkin karena bahkan di umur sekarang, gw masih g tau apa yang gw mau, gw g tau apa yang mesti gw lakukan. Dan memiliki anak adalah tentang bertanggungjawab pada hidup seseorang, pada pendidikannya, pada masa depannya. Hal yang bagi gw merupakan sebuah tujuan hidup yang terang benderang yang hanya perlu dijalani once u have them. G perlu mikir tentang apa yang diinginkan, tentang bagaimana harus dijalani, semua terjadi begitu saja. Jalannya sudah jelas.  Punya anak adalah tentang memiliki rasa cinta pada sesuatu yang unconditional. Pamrih maupun lelah atau segala sulit yang akan datang nantinya will...

Judulnya apa bagus?

Jadi ceritanya, Si Jupri, motor tua peninggalan bapak saya ngadat lagi. Sepagian saya sudah harus berkeringat gegara mendorong doski ke bengkel terdekat. Sial benar,pikir saya. Dalam kejadian ini, saya punya 4 orang pahlawan yang super sekali. 2 orang pertama adalah tetangga yang awalnya membantu saya 'menghidupkan' si jupri (namun gagal), 1 orang berikutnya adalah ibu-ibu penjaga kios yang menunjukkan kepada saya dimana letak bengkel terdekat (sebab bengkel dekat rumah masih tutup). Dan terakhir tentunya, adalah om-om pemilik bengkel, yang telah membantu saya 'membangunkan' si jupri. Setelah berpeluh-peluh mendorong jupri beberapa ratus meter, saya yang anggun ini akhirnya tiba di bengkel yang ditunjukkan oleh ibu-ibu tadi. Thanks God, bengkelnya sudah buka. Si om pemilik bengkel pun bertanya: “ Kenapa mbak?” “ Mogok pak, ndak mau idup” Si om langsung mengambil alih jupri dan saya segera mencari bangku untuk bisa duduk (hampir saja saya duduk di atas ta...