Skip to main content

Posts

Antara Solat dan 'Grand Prize' berhadiah Unta

Kemarin, sembari menunggu seseorang yang 'penting' di kampus, saya ngobrol gak jelas en ketawa-ketiwi sama seorang teman. Tanpa kami sadari adzan zhuhur telah berkumandang. Teman sayapun berkata: "Wah, dah jam istirahat, jadi gimana nih?kita tunggu atau kau pergi solat dulu?" Saya:"Hmmm....(menimbang-nimbang) Teman saya: "Tau gak ka, kemarin saya dengar ceramahnya ustad Maulana, katanya kalo orang yang solat di awal waktu ibarat kata dia memperoleh hadiah Unta" Saya:" Ooo...Kalo orang yang solat di tengah waktu?" Teman saya: "Seperti mendapaat Sapi" Saya: "Hmmm,,, kalo di akhir waktu?" Teman Saya:"Mendapat kambing" Saya:"Hmmm,,,(diam sejenak) Teman saya:"So??"Kita solat dulu or tetap menunggu? Saya:"Hmmmmmmmm.....(diam sejenak dan berpikir)"Harga unta sama sapi mahalan mana ?" Teman saya:(GUBRAK!)*Jatohh.. "Meneketehe" Saya: "Hmmm..kayak...

Be On Time or You will Regret!

Seperti yang kita dengar tentang Amerika bahwa waktu adalah sesuatu yang krusial. Time is Money . Orang Amerika sangatlah menghargai waktu. Sebagai orang Indonesia, kita kenal betul tabiat masyarakat kita. Soal waktu, kita dikenal dan mengenal diri kita sendiri sebagai penganut jam karet. Kita tak bisa memungkiri hal itu sebab kenyataannya memang demikian (meski tidak semua orang Indonesia demikian). Selama di AS saya selalu berusaha untuk be on time dan mengikuti ritme kehidupan a la Amerika. Saya malu bila datang terlambat ke kelas. Bukan karena apa, tapi karena selama di AS, saya dan teman-teman bukan hanya merepresentasikan diri kami secara individu tetapi juga citra bangsa kami,Indonesia sebab ketika kami melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan, bukan hanya nama kami yang dipertanyakan tapi asal muasal kami juga akan terbawa-bawa. Saya sadar betul hal itu. Oleh sebab itu, selama program IELSP ini, saya sebisa mungkin untuk tetap menjaga nama baik bangsa d...

Good Bye Stories #Part II

Sekitar 45 menit van kami melaju menuju Ibu kota Iowa, Des Moines. Pukul 6 lebih sedikit, kami tiba di DSM International Airport. Meski matahari telah bersinar, udara masih tetap menusuk. Angin pagi Iowa, membuat saya menggigil. Setelah semua barang diturunkan, kami segera chek in untuk flight menuju Minnesota. Sebelumnya, kami mengucapkan salam perpisahan kepada Jared dan Jessie, pengajar di IEOP yang telah menyempatkan diri untuk mengantar kami hingga ke Des Moines. ‘Paman Jessie’ lelaki datar yang mengatai dirinya sendiri sebagai pribadi yang membosankan, tersenyum ke  arah kami sesaat ketika kami hendak masuk ke bandara. Ah, Jessie…bagaimanapun, saya tidak akan pernah lupa, ketabahannya menemani dan menjaga kami selama  trip di Chicago sebulan yang lalu. Kami terbang ke Mineapollis sekitar pukul 8 pagi dengan menumpang Delta Airlines berukuran mini.  Checkin at DSM Airport Di Mineapolis, kami harus menunggu cukup...

Good Bye Stories #Part 1

Waktu, melesat-lesat begitu cepat. Berlari begitu kencang, meninggalkan jejak-jejak memori dalam kehidupan. Rasanya hanya sekejap, 2 bulan berlalu begitu cepat..dan tibalah kami harus meninggalkan negeri Paman Sam. Program IELSP kami telah berakhir. Saya ingat bagaimana perasaan kami,para IELSPer Iowa di hari-hari terakhir kami di sana. Perasaan kami campur aduk, tetapi perasaan sedih  adalah yang paling mendominasi. Sedih, ya tentu saja. Sedih meninggalkan semua hal baru yang telah kami kenal di Amerika, Ms.Xiong, teman2 Internasional student, teman2 sesama Indonesia, para Instruktur IEOP, kehidupan AS yang perlahan,kami telah terbiasa. Kami telah memiliki keluarga di sana. Kami merasa nyaman, meski tentu saja, tidak ada tempat di dunia ini yang senyaman tanah air. Di hari-hari terakhir, saya dan teman-teman memilih untuk menikmati hari-hari terakhir kami dengan hal-hal yang menyenangkan. Kami lebih sering ngumpul bersama, mempererat pertemanan ...

STORY OF SNOW #Chapter 2

Hari-hari berikutnya di Iowa, saya masih tetap excited dengan salju. Begitu juga teman-teman lainnya. Suatu pagi, di hari ke 3 saya di Iowa, Salju kembali turun. Saya baru saja selesai mandi ketika roomate saya,Lyla bilang: "Wow, di luar turun salju!" Saya mengintip dari jendela kamar, dan benar. Butiran-butiran putih seperti kapas turun dari langit perlahan-lahan. Pohon cemara di sekitar apartemen mulai memutih ditimpa salju. Saya mendengar celotehan beberapa anak di luar, rupanya teman-teman dari apartemen sebelah yang sedang menikmati snowfall pertama mereka. Dengan segera saya mengambil kamera dan bergabung bersama mereka. Tak menyadari bahwa saya hanya menggunakan kemeja tipis, gloves, dan sendal jepit. Yeah..sendal jepit!                                         ...

Story Of Snow # Chapter 1

Terlahir dan tinggal di negeri tropis, rasanya wajar bagi saya bila merasa 'excited ' berlebihan ketika pertama kali melihat salju dan merasakan winter di negeri Paman Sam beberapa waktu lalu. Di Indonesia, negara dua musim beriklim tropis, salju adalah hal yang mustahil. Sejak kecil, saya ingin sekali merasakan salju seperti yang kerap saya tonton di film-film. Kebetulan paman,kakak dan sahabat saya,Anggi,telah lebih dulu menginjakkan kaki di negeri bersalju,Denmark Amerika dan Kanada. Kepada mereka saya bertanya-tanya penuh rasa ingin tahu dengan mata yang berbinar-binar lebay. Kepada om saya,tahun 1996: Saya:"Om bagaimana rasanya salju Om saya: "Dingin" Saya:Om'salju bisa dimakan?" Om saya:"Tidak, kotor karena diinjak-injak.. Saya: "Kalo yang baru turun dari langit?' Om saya:"Banyak es di kulkas yang bisa di makan(-_-') Saya: (* membayangkan salju turun dari langit, saya berlarian, menengadah,membuka mulut dan ...

SPRING IN ILLINOIS (Catatan Perjalanan Singkat di Kampung Abraham Lincoln Part II)

MULTI ETNIS (Sambungan) Individualistik masyarakat kota besar pun nampak dikeseharian masyarakat Chicago. Tidak ada senyum basa-basi seperti yang biasa dilakukan masyarkat Ames bila berpapasan di jalan. Diversity di Chicago juga sangat Nampak. Orang-orang dari berbagai ras dan etnis nampak dimana-mana. Menurut pengamatan saya, Tidak susah untuk menemukan muslimah berjilbab di kota ini, sebab selama beberapa hari saya di sana, tidak jarang saya melihat atau berpapasan dengan para jilbaber. Kebanyakan mereka berwajah timur tengah. Hal ini semakin menegaskan bahwa pluralism di Amerikas Serikat adalah hal yang biasa. Masyarakat AS sudah terbiasa dengan kehadiran orang-orang dari luar negeri mereka. Selama di Chicago saya telah bertemu dengan orang-orang dari berbagai bangsa, dari asia, Eropa, Afrika, sampai Timur Tengah. Kebetulan hostel tempat kami menginap adalah sebuah hostel yang memilki ‘guest’ dari berbagai negara. Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang Yahu...