Skip to main content

Berburu Megalith di Lembah Besoa

Hamparan alam nan hijau tersaji dihadapan kami ketika mobil avanza yang kami tumpangi memasuki Lembah Napu Kabupaten Poso. Rintik-rintik hujan,semilir angin, udara yang sejuk berbalut kabut tipis menyambut kedatangan kami  di tempat itu. Gunung, padang rumput yang membentang, jalanan yang berkelok-kelok menyatu memberi kesan eksotisme khas pedalaman. Setelah melewati perjalanan darat berjam-jam dari Palu, dengan medan tempuh yang lumayan gak asik, kami akhirnya semakin dekat ke tujuan yaitu Desa Doda, Lembah Besoa, Lore, Kab. Poso.
***
Gagasan untuk mengunjungi situs megalitik di lembah Besoa, Napu muncul secara spontan di kepalaku. Awalnya tujuan kami bukan Napu melainkan hanya sampai di Danau Tambing, sebuah danau rekreasi di daerah Taman Nasional Lore Lindu sekitar 3 jam dari kota Palu. Sudah beberapa kali kawan-kawan kantor saya mengajak untuk camping di danau itu, namun saya tolak karena beberapa alasan. Hingga suatu hari, ketika saya dan teman-teman sesama anggota English Club mengadakan meeting rutin mingguan, ide itu kembali muncul. Namun bukan hanya ke danau Tambing melainkan trus ke Doda, Kecamatan Lore Kabupaten Poso untuk mengunjungi situs megalitik di sana. Berhubung belum bisa jadi turis prasejarah ke Stonehenge, Inggris (pengen banget ke sana gegara gambar wallpaper di desktop komputer pertama saya), maka yang lokal pun gak masalah. Toh gak kalah keren. Justru konon katanya arca megalitikum yang ada di lembah Besoa dan sekitarnya ini adalah jenis arca langka di dunia sebab hanya ada di Napu, Besoa, Bada dan Pulau Paskah, Amerika Latin. Bangga dong *muka songong*
Maka otomatis ide berburu megalit ini langsung disambut dengan bersemangat oleh teman-teman yang notabene memang tukang jalan-jalan
.
Maka dengan persiapan matang ga matang (sempat hampir bawa dispenser + galon air sebagai bekal), kami berempat belas berangkat menuju Lembah Besoa, Kabupaten Poso. Saya gak mengira bakal pergi berempat belas, awalnya hanya sekitar 8 orang, namun beberapa teman mengajak teman lainnya, Maka jadilah kami, segerombolan anak muda  yang kemungkinan jomblo semua  berangkat menuju Desa Doda, Kab. Pos dengan formasi 1 mobil dan 3 sepeda motor.

pose sebelum berangkat
Jalan menuju Napu, harus hati-hati di sini yak



Danau Tambing, go ahead. 





keujanan di jalan, kesiann..
 Kami start dari Palu sekitar pukul 9 pagi, tiba di danau tambing pukul 11 dan menyempatkan untuk makan siang di sana dengan bekal yang sudah disiapkan. Setelah kenyang dan puas liat-liat alam sekitar, kami melanjutkan perjalanan. Di suatu desa yang entah namanya apa, kami berhenti lagi untuk mampir solat zuhur sekalian ashar.
 Dalam perjalanan ke Doda kami melewati beberapa daerah endemik Schistosomiasis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh cacing pipih trematoda yang bisa disebarkan melalui air dan menembus pori-pori kulit manusia. Satu tetes air yang sudah tercemar cacing ini bisa menyebabkan sakit schistosomiasis. Hiyy,,kudu hati-hati. Konon, penyakit inilah yang membuat hilangnya peradaban megalit masa lalu Lembah Besoa dan sekitarnya (selain spekulasi tentang dekatnya daerah ini dengan jalur sesar Palu-Koro, salah satu sesar gempa teraktif di Indonesia setelah sesar Sumatera (sumber: om google :D)

Berhubung belum ada seorang pun dari kami yang pernah melancong hingga ke Doda, maka otomatis perjalanan kami dibumbui dengan tanya sini tanya sana sehingga terasa lama. Walhasil kami tiba di Doda pukul setengah 6 sore, padahal menurut teman kantor yang pernah ke sana perjalanan ga akan memakan waktu selama itu, hanya sekitar 6 jam ( sudah dengan acara singgah jepret kanan kiri) ga ngerti kenapa kami  bisa selama itu, mungkin karena semuanya newbie yah?Entahlah

Tiba di Doda kami menginap di sebuah penginapan bernama Penginapan Berkat. Salah satu alasan kami memilih penginapan ini adalah, selain karena rekomendasi teman yang pernah ke sana, juga karena penginapan ini sangat dekat dengan masjid. Penginapannya lumayan lah, 1 kamar bisa muat 6 orang, dengan harga kamar per malam sebesar Rp.110.000. Berhubung jumlah kami banyak, maka kami memesan 3 kamar.
berdebat malam-malam apakah akan mengunjungi watutau atau tidak
Buku tamu penginapan berkat: Medina kamil was here




Pose sebelum meninggalkan penginapan Berkat

Keesokan harinya 'perburuan' Megallit kami dimulai. Setelah sarapan seadanya (energen+roti+biskuit,) kami segera check out dari penginapan dan langsung meluncur menuju situs megalit Pokeka di desa Hanggira. Untuk sampai ke situs Pokekea kami harus melewati jalanan sempit yang becek, dengan pemandangan sawah nan hijau di kiri dan kanan. Teman kami, Otong, yang menjoki selama perjalanan harus pintar-pintar mengemudikan mobil agar tidak terjebak ke dalam lumpur (meski pada akhirnya sempat terjebak juga -_-). Mobil hanya bisa berhenti sekitar 600 M dari lokasi megalit. Selanjutnya kami harus berjalan kaki melewati sawah dan sungai. Jalanannya sempit dan berlumpur, tapi saya sih asik-asik aja. Anggap saja kami sedang ikut syuting si Bolang di Trans TV. hehe.
 

the Bolangs
 

Beberapa menit berjalan maka tadaaaaaaaaaaaaaa! tibalah kami di situs megalit Pokekea :D
Yang pertama kali saya lihat adalah sebuah Kalamba gede yang berdiri gagah di tengah bukit. Bagi yang belum tau apa itu Kalamba, mari-mari sedikit saya jelaskan *pasang tampang sok teu* Jadi menurut ahli sejarah, ada dua versi soal fungsi kalamba, yang pertama sebagai tempat penyimpanan air dan yang kedua sebagai tempat penyimpanan mayat. Tentu saja, saya lebih suka dengan ide yang pertama (gak kebayang kan saya berfoto-foto heboh di tempayan penyimpan mayat, hiyy -_-)
Selain Kalamba, ada Arca batu berbentuk manusia. Entah sebagai simbol apa, yang pasti arca yang ada di situs Pokekea ini berjenis kelamin perempuan *bentuk kelaminnya jelas banget -_-*

Kalamba, saya lebih suka menganggapnya sebagai tempat penyimpanan air ketimbang penyimpanan mayat
arca manusia
 

Sekte Pemujaan Megalit, Don't try this at home! lol,

Konon di Lembah Besoa tersebar ratusan peninggalan prasejarah zaman batu besar. Modelnya beragam dan dari apa yang saya baca di mbah google, peninggalan megalitikum di lembah Besoa dan sekitarnya merupakan peninggalan pra sejarah yang paling  beragam di Indonesia. Diperkirakan usia dari arca-arca tersebut sekitar 3000 sampai 4000 SM. Sayang keberadaan situs-situs ini kurang populer (mungkin karena kurang promosi) sehingga hanya menarik minta para peneliti dan bukan wisatawan umum.

gaya pendekar terbang

Gaya ga ada senyum

Gaya boyband malaysia


gaya chibi-chibi

Setelah puas berfoto dengan berbagai gaya (gaya yoga, jungkir balik, gaya ga ada senyum, dan gaya terbang) di situs Pokekea, kamipun melanjutkan perjalanan ke situs berikutnya, yakni arca Tadulako. Konon Tadulako merupakan sebutan buat panglima perang jaman dahulu, sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Menurut cerita turun-temurun (sumber: om Google) Sang panglima perang Tadulako dikutuk menjadi batu setelah dijitak dipukul kepalanya oleh seorang musuh wanitanya.

Untuk menjangkau Arca Tadulako, kami harus melewati jalanan yang rimbun, penuh semak dan tentu saja becek. Kalo dilihat sepintas, jalan setapak itu seperti tidak pernah lagi dilewati oleh manusia. Belum lagi minimnya papan penunjuk yang mengindikasikan keberadaan sang Arca. Setelah berjalan beberapa ratus meter lalu mendaki jalanan becek, kami pun tiba di tempat arca tersebut.
jalanan becek menuju arca tadulako,Sori potonya miring,hehe

Berdiri gagah namun kesepian di sebuah bukit di antara padang ilalang, arca Tadulako nampak bahagia melihat kedatangan kami *nah lo?
Dan segera, kami mengabadikan momen-momen bersama sang panglima sakti zaman dulu. Masih dengan berbagai gaya (gaya yoga,gaya terbang dan gaya ga ada senyum).

Tanpa terasa, matahari merambat naik, yang tadinya mendung, kini terang benderang. Kami pun bergegas untuk kembali ke mobil dan melanjutkan perjalanan pulang kembali ke Palu. Sebelum pulang kami menyempatkan berpose di depan rumah adat Tambi, rumah adat tradisional Besoa.

Sang Panglima Perang yang kesepian


Catch me if you can! Bweee

gaya yoga
Rumah Tradisional Tambi

Sebenarnya kami masih ingin berlama-lama di lembah Besoa sebab masih banyak situs yang belum kami kunjungi. Salah seorang teman bahkan ingin sekali mengunjungi tempat pengamatan burung di lembah itu. Namun karena mempertimbangkan waktu dan kondisi jalan trans Palu-Napu yang lagi gak asik, maka kami memutuskan untuk segera pulang (sempat ada perdebatan apakah kami sebaiknya mengunjungi situs megalitik di Watutau atau tidak).
Melewati jembatan rusak
Seperti biasa dalam perjalanan, perjalanan pulang memakan waktu yang lebih cepat dari sebelumnya. Sempat ada insiden kecil ketika kami melewati pedakian setelah meninggalkan lembah Napu. Mobil kami nyaris tergelincir karena jalanan yang curam dan licin. Otomatis, kami panik jadinya. Syukur supir kami yang baik hati dan tidak sombong, si Otong, cukup berpengalaman dalam hal yang beginian. Dengan bantuan Allah melalui kawan-kawan kami yang bermotor, maka selamatlah kami dari ancaman mati muda dalam keadaan single maut.

nyaris tergelincir

Sekedar saran, bagi teman-teman yang berencana untuk mengunjungi situs Megalit di Taman Nasional Lore Lindu, sebaiknya pergi dengan pengemudi yang berpengalaman sebab jalan menuju TKP membutuhkan skill profesional seorang driver *tsahh*. Jadi, kalo yang biasa cuma ngebut dalam kota, sebaiknya jangan coba-coba. Oh ya saran lagi, sebaiknya menggunakan jenis mobil offroad dari pada menggunakan mobil 'kota' pada umunya (itu kalo kalian ga mau bermasalah sama bemper yah,hihi).

 


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Judulnya apa bagus?

Jadi ceritanya, Si Jupri, motor tua peninggalan bapak saya ngadat lagi. Sepagian saya sudah harus berkeringat gegara mendorong doski ke bengkel terdekat. Sial benar,pikir saya. Dalam kejadian ini, saya punya 4 orang pahlawan yang super sekali. 2 orang pertama adalah tetangga yang awalnya membantu saya 'menghidupkan' si jupri (namun gagal), 1 orang berikutnya adalah ibu-ibu penjaga kios yang menunjukkan kepada saya dimana letak bengkel terdekat (sebab bengkel dekat rumah masih tutup). Dan terakhir tentunya, adalah om-om pemilik bengkel, yang telah membantu saya 'membangunkan' si jupri. Setelah berpeluh-peluh mendorong jupri beberapa ratus meter, saya yang anggun ini akhirnya tiba di bengkel yang ditunjukkan oleh ibu-ibu tadi. Thanks God, bengkelnya sudah buka. Si om pemilik bengkel pun bertanya: “ Kenapa mbak?” “ Mogok pak, ndak mau idup” Si om langsung mengambil alih jupri dan saya segera mencari bangku untuk bisa duduk (hampir saja saya duduk di atas ta...

Here We Are, Uncle Sam!

I hopped off the plane at LAX with a dream and my cardigan welcome to the land of fame excess, (woah) am I gonna fit in? Jumped in the cab, Here I am for the first time Look to my right and I see the Hollywood sign This is all so crazy Everybody seems so famous… (Party In The USA) Alunan lagu Miley Cyrus serasa menggema di telingaku ketika pertama kali menjejak daratan Amerika… hmmm jadi ini negeri itu? Negeri yang katanya Adikuasa, Superpower and Bla..bla itu.. Negeri ini dulu hanya ada dalam kepalaku dan dalam film-film Dan sekarang….Here We Are, Uncle Sam! Ada sensasi yang luar biasa saat kakiku pertama kali menjejak negerinya Barrack Obama ini. KEDINGINAN! Hahaaaa… Brrr….AS masih winter Rupanya salju turun tepat di saat kami tiba di bandara International St Paul Mineapollis. Putih,semuanya tampak putih, tanah, pepohonan, rumput-rumput. Snowfall….indah sekali.. Dengan sangat excited para IELSPer menatap butiran-butiran putih yang jatuh dari langit it...